ASPEK PERKEMBANGAN EMOSI
1. Pengertian Emosional
Perbuatan atau perilaku kita sehari-hari
pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan senang atau tidak senang. Perasaan
senang atau tidak senang yang terlalu menyertai perbuatan-perbuatan kita
sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif ini kadang-kadang kuat,
kadang-kadang lemah, kadang-kadang tidak jelas (samar-samar). Dalam hal warna
afektif tersebut kuat, maka perasaan - perasaan menjadi lebih mendalam, lebih
luas, dan lebih terarah perasaan-perasaan seperti ini disebut emosi. Jadi,
emosi warna afektif yang kuat dan
ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Pada saat terjadi
perubahan-perubahan fisik, antara lain berupa :
1) Denyut jantung: bertambah cepat bila;
terkejut.
2) Peredaran darah: bertambah cepat bila
marah.
3) Bulu roma: berdiri bila takut.
Jadi,
emosi adalah suatu keadaan yang kompleksi dapat berupa perasaan / pikiran yang
di tandai oleh perubahan biologis yang muncul dari perilaku seseorang.
2. Jenis Emosi
Menurut
Stewart mengutarakan perasaan senang, marah, takut dan sedih sebagai basic
emotions.
a. Senang
(gembira) Pada umumnya perasaan gembira dan senang diekspresikan dengan
tersenyum (tertawa). Pada perasaan gembira ini juga ada dalam aktivitas pada
saat menemukan sesuatu, mencapai kemenangan.
b. Marah
Emosi, marah dapat terjadi pada saat individu merasa terhambat, frustasi karena
apa yang hendak di capai itu tidak dapat
tercapai.
c. Takut
Perasaan takut merupakan bentuk emosi yang menunjukkan adanya bahaya.
d. Sedih.
Dalam kehidupan sehari–hari anak akan merasa sedih pada saat ia berpisah dari
yang lainnya.
Dari ke empat emosi dasar tadinya dapat
berkembang menjadi berbagai macam emosi yang di klasifikasikan ke dalam
kelompok emosi positif dan emosi negative. Contoh dari Emosi positif dan
negatif yang di kemukakan oleh Reynold tersebut adalah: Emosi Positif: Humor
(lucu), kesenangan, rasa ingin tahu, kesukaan. Emosi Negatif: Tidak sabaran,
rasa marah, rasa cemburu, rasa benci, rasa cemas, rasa takut. Kesimpulan: Bahwa
perkembangan emosi bisa terjadi atau timbul kapan saja, emosi dapat
mempengaruhi iklim psikologis lingkungan. Contoh: Dalam permainan menjadi tidak
menyenangkan, akan timbullah pertengkaran, Anak akan dapat belajar dengan baik
apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi merasa aman dan nyaman dalam lingkungan.
3. Fungsi Emosi
Fungsi
dan peranan emosi pada perkembangan anak yang dimaksud adalah :
a. Merupakan
bentuk komunikasi.
b. Emosi
berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan
lingkungan sosialnya.
c. Emosi
dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan.
d. Tingkah
laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan.
e. Ketegangan
emosi yang di miliki anak dapat menghambat aktivitas motorik dan mental anak.
4.
Tahapan Perkembangan Emosi
Perkembangan emosional, seperti
perkembangan fisik dan sosial, mengikuti perkembangan yang dapat diramalkan
tentang pertumbuhan. Bayi bereaksi terhadap emosi apapun dengan mengeluarkan
suara tangisan yang tidak dapat dibedakan. Ketika bayi tumbuh, tangisan ini
mulai dapat dibedakan dan digunakan untuk mencerminkan berbagai emosi.
Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan
Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan
emosional anak menjadi beberapa tahapan, yaitu :
(Tahap
1): Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.
Dalam
tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang
menyenamgkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang
menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga.
(Tahap
2) : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun.
Anak
sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot
tubuhnya.Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya
dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi
kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu
dan ragu-ragu.
(Tahap
3) : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.
Pada masa ini anak dapat menunjukkan
sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan
berinteraksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan
rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah.
(Tahap
4): industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun –
puberitas.
Anak telah dapat melaksanakan
tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu
memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu
keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak
menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.
DAFTAR PUSTAKA
Multazam, Ahmad. 2013. Aspek
Perkembangan Emosi. (Online). (http://Mutazam-einstein.blogspot.com) diakses 7
September 2015.
Sunarto
dan B. Agung Hartono. 2008. Perkembangan
Peserta Didik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Yuliani
Nuraini Sujiono. 2009. Konsep Dasar
Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT. Indeks.
Slamet
Suyanto. 2005. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Hikayat
Publishing.
No comments:
Post a Comment